-->

November 17, 2013

Peningkatan Kemampuan Diri Melalui Kegiatan Bercerita Cerita Anak Berbentuk Dongeng



Peningkatan Kemampuan Diri Melalui Kegiatan Bercerita Cerita Anak Berbentuk Dongeng
 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kebanyakan orang tua sekarang belum bisa secara maksimal untuk mendongeng kepada buah hati mereka, padahal dengan meluangkan waktu sedikit disela-sela waktu istirahat atau libur anda, mendongeng (khususnya dongeng anak indonesia) bisa memaksimalkan fungsi dan kerja otak si kecil secara penuh.
Mendongeng adalah sebuah teknik dimana sang pendongeng dengan serta merta membawakan alur cerita yang menarik bagi si anak. Dengan intonasi yang ceria serta tidak monoton, mendongeng kepada anak bisa membuat buah hati kita menjadi ceria dan bersemangat dalam bermain.
Namun sayangnya kini banyak dongeng anak indonesia yang sudah terlupakan, sehingga tak jarang orang tua menjadi tidak tahu dongeng apa yang bisa mereka ceritakan kepada buah hati mereka.
Dongeng tak akan pernah hilang hingga kapan pun. Sejak dari kakek-nenek kita, hingga sekarang atau bahkan sampai anak cucu kita kelak.Di dalam dongeng terkandung tauladan yang dapat dijadikan panutan. Juga terkandung nilai-nilai luhur berupa pendidikan akhlak dan budi pekerti. Dongeng juga merupakan sarana untuk memudahkan berkomunikasi serta menyampaikan gagasan atau buah pikiran. Untuk itu makalah ini disusun agar menambah wawasan akan kekayaan budaya bangsa bagi kita semua, khususnya bagi anak-anak.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.      Bagaimanakah kakikat dari dongeng?
2.      Bagaimanakah tata cara mendongeng yang baik?
3.      Bagiamanakah cara membuat dongeng?
C.    Tujuan
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1)      Untuk mengetahui hakikat dongeng.
2)      Untuk mengetahui tata cara mendongeng dengan baik.
3)      Untuk mngetahui cara membuat dongeng.


BAB II
PEMBAHASAN
I.            Pengertian
                 Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Terkadang kisah dongeng bisa membawa pendengarnya terhanyut ke dalam dunia fantasi, tergantung cara penyampaian dongeng tersebut dan pesan moral yang disampaikan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Hal-hal yang perlu diketahui mengenai dongeng:
v  Dongeng dalam pengertian yang lebih luas merupakan pengungkapan diri manusia, tempat mencari hiburan dan memenuhi angan-angannya.
v  Dalam Ensiklopedi Indonesia, dongeng memiliki pengertian cerita singkat tentang hal-hal aneh dan tidak masuk akal, berbagai keajaiban dan kesaktian yang biasanya mengisahkan dewa, raja, pangeran, dan putrid.
v  Pada umumnya, dongeng tidak diketahui pengarangnya dan terkadang hanya diketahui nama pengumpul/ penyadurnya.
v  Berdasarkan muasalnya, dongeng berasal dari bangsa Thai di Yunan, tetapi kemudian tersebar ke seluruh Asia Tenggara. Di Indonesia, dongeng tersebut tersebar dari Aceh hingga Maluku Tenggara. Di Jawa Tengah atau Jawa Timur, dongeng juga berkembang.
Kisah dongeng yang sering diangkat menjadi saduran dari kebanyakan sastrawan dan penerbit, lalu dimodifikasi menjadi dongeng modern. Salah satu dongeng yang sampai saat ini masih diminati anak-anak ialah kisah 1001 malam dengan tokohnya bernama Abunawas. Sekarang kisah asli dari dongeng tersebut hanya diambil sebagian-sebagian, kemudian dimodifikasi dan ditambah, bahkan ada yang diganti sehingga melenceng jauh dari kisah dongeng aslinya, kisah aslinya seakan telah ditelan zaman.Sedangkan cerita yang berisi tokoh para hewan disebut dengan fabel.
Dongeng adalah cerita sederhana yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng berfungsi untuk menyampaikan moral (mendidik) dan juga menghibur.
Dongeng termasuk dalam cerita rakyat lisan. Menurut Danandjaja (1984) cerita rakyat lisan terdiri atas mite, legenda, dan dongeng. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohkan oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwanya terjadi di dunia lain, bukan di dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau.
Dongeng juga termasuk cerita tradisional. Cerita tradisional merupakan cerita yang disampaikan secara turun temurun. Suatu cerita tradisional dapat disebarkan secara luas ke berbagai tempat. Kemudian, cerita itu disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.
Dongeng biasanya memiliki tema sebagai berikut:
ü  Tugas yang tak mungkin dilaksanakan.
ü  Kejadian yang terjadi di masa lampau, di suatu tempat yang jauh sekali
ü  Moral tentang kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan.
ü  Mantra ajaib, misalnya mantra untuk mengubah orang menjadi binatang.
ü  Daya tarik yang timbul melalui kebaikan dan cinta.
ü  Kejahatan ibu tiri.
ü  Keberhasilan anak ketiga atau anak bungsu ketika sang kakak gagal.
ü  Kecantikan dan keluhuran anak ketiga atau anak bungsu.
ü  Kecemburuan saudara kandung yang lebih tua.
ü  Pertolongan yang diberikan kepada orang baik oleh makhluk dengan kekuatan ajaib.

Jenis dan Ciri-ciri Dongeng
Jenis-jenis dongeng diantaranya adalah :
Ø  Dongeng binatang/fabel
Fabel adalah dongeng binatang yang mengandung pendidikan tentang perbuatan baik dan buruk. Dalam fabel, tokoh binatang berperilaku seperti manusia. Hal tersebut menggambarkan watak dan budi pekeri manusia. Dongeng Kancil dan Buaya,dan Kucing Bersepatu Bot merupakan contoh dongeng binatang. Biasanya, mereka digambarkan sebagai hewan cerdik, licik, dan jenaka.
Ø  Dongeng biasa
Dongeng biasa adalah cerita tentang tokoh suka dan duka. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dan Jaka Tarub.
Ø  Dongeng lelucon
Dongeng lelucon berisi cerita lucu tetang tokoh tertentu. Contoh dongeng ini yaitu Si Kabayan dari Jawa Barat.

Ciri-ciri dongeng antara lain :
• menggunakan alur sederhana;
• cerita singkat dan bergerak cepat;
• karakter tokoh tidak diuraikan secara rinci; dan
• ditulis seperti gaya penceritaan secara lisan.
Perbedaan Dongeng dan Legenda
Dongeng, merupakan suatu kisah yang di angkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral, yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi, dari pemikiran seseorang yang kemudian di ceritakan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. terkadang kisah dongeng bisa membawa pendengarnya terhanyut kedalam dunia fantasi, tergantung cara penyampaian dongeng tersebut dan pesan moral yang disampaikan. Kisah dongeng yang sering diangkat menjadi saduran, dari kebanyakan sastrawan dan penerbit lalu dimodifikasi menjadi dongeng ala moderen. Salah satu dongeng yang sampai saat ini masih diminati anak-anak ialah kisah 1001 malam, sekarang kisah asli dari dongeng tersebut hanya di ambil sebagin-sebagian, kemudian di modifikasi dan ditambah, bahkan ada yang di diganti sehingga melenceng jauh dari kisah dongeng aslinya. sekarang kisah aslinya seakan telah ditelan oleh usia zaman dan waktu.
Sedangkan legenda(Latin legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang enpunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklor.
Manfaat dongeng
manfaat dongeng: pengembangan otak dan kemampuan berbahasa anak. mendongeng juga dapat menenangkan anak kala menangis, Menurunkan tingkat stres, Mendongeng dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak, Memperkenalkan Bentuk Emosi, Mempererat Ikatan Batin, Memperluas Kosa Kata, Merangsang Daya Imajinasi.
II.            Tata cara mendongeng
Ketika mendongeng lafalnya harus menarik, keras, dan jelas. Suara juga boleh dibuat berbeda-beda antar tokoh dan narator. Supaya bagus, bisa memakai alat peraga. Bisa berupa boneka, atau alat-alat lain yang ada dalam cerita tersebut. Dongeng yang akan kita tampilkan harus dikuasai isinya. Kita harus sangat hafal dongeng itu secara detailnya. Kalau lupa dan sangat mendesak, boleh improvisasi, tapi maksudnya harus sama. Improvisasi adalah prebaikan /jalan pintas yang dilakukan pada saat kita terdesak supaya tidak terlihat memalukan. Dongeng harus dimengerti, supaya perasaan ketika kita mendongeng pas dan sangat bagus ekspresinya. Intonasinya harus pas dan jelas. Mimik muka harus sesuai dengan ceritanya. Mata usahakan menatap penonton. Pilih dongeng yang bernilai moral baik. Yang bertokoh berkelakuan baik, supaya pendengar bisa mencontohnya. Boleh dengan di iringi musik supaya menambah kedekatan antara pendongeng dan penonton/pendengar. Contohnya musik klasik. Berikut cara-cara mendongeng yang baik :
a.       Bawakan dongeng dengan memakai tokoh karakter yang biasanya anak-anak sangat suka, contohnya saja si kancil. Dengan memakai tokoh sikancil, kebanyakan anak-anak tertuju kepada tokoh yang pandai dan cerdik.
b.      Jangan terlalu fokus kepada sebuah/seekor tokoh yang anda fikirkan atau bayangkan ketika ingin mendongeng di depan anak anda. Jujur saya sendiri lebih senang memakai tokoh-tokoh hewan yang ada didalam hutan untuk mendongeng kepada anak saya.
c.       Gunakan selalu intonasi yang berbeda-beda pada setiap karakter. Nah tips yang satu ini sangat penting. Disamping mengajari anak untuk mampu membedakan antara suara tokoh satu dengan tokoh lainnya. Juga melatih mereka untuk menghafal intonasi dari setiap karakter yang anda dongeng-kan.
d.      Perlihatkan mimik/raut muka anda setiap dialog yang anda ceritakan. Permainan raut muka sangat membuat anak menjadi fokus dan asik serta terlena dalam mendengarkan dongeng anda. Coba saja perhatikan jika anda mendongeng dengan raut muka seperti orang yang sedang mengantuk..ehehe.
e.       Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan keceriaan. Buatlah alur dongeng anak anda menjadi se-ceria mungkin. Ambillah posisi yang bisa terlihat secara keseluruhan oleh putra-putri anda. Jangan sungkan jika anda harus teriak-teriak, melompat-lompat bahkan menangis jika memang dongeng tersebut mengharuskan anda mencontohkannya.
III.            Pembuatan dongeng
Menurut Lustantini Septiningsih (1998: 16), ada empat unsur penting yang menjadi kunci ketertarikan pendengar (anak-anak) pada suatu dongeng. Yaitu, tema, tokoh, alur cerita, dan latar cerita. Hal ini harus diperhatikan oleh seorang pendongeng atau orang tua agar dapat membuat dongeng yang menarik sehingga tujuan dari mendongeng benar-benar tersampaikan kepada anak. Sebab, mendongeng tidak hanya bertujuan untuk hiburan atau melewatkan waktu luang saja, akan tetapi sangat banyak berisikan pelajaran (moral), nilai-nilai yang kelak akan ditanamkan kepada anak. Segala tujuan mental itu sangat efektif jika disisipkan ke dalam cerita atau dongeng yang menarik. Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat, yang mempunyai keguanaan sebagai alat hiburan atau pelipur lara dan sebagai alat pendidik (pelajaran moral).
Satu unsur dapat lebih menonjol diantara unsur lainnya, karena bisa jadi sebuah dongeng dikatakan menarik karena alur dan penokohan saja yang menonjol. Tentu lebih baik apabila keempat unsurnya dapat dikerjakan oleh pengarang dongeng dengan maksimal. Berikut adalah uraian tentang unsur-unsur yang penting dalam sebuah dongeng yang baik.
1. Tema
Pengarang menampilkan sesuatu tema karena ada maksud tertentu atau pesan yang ingin disampaikan. Maksud atau pesan yang ingin disampaikan itu disebut amanat. Jika tema merupakan persoalan yang diajukan, amanat merupakan pemecahan persoalan yang melahirkan pesan-pesan.
Tema cerita merupakan konsep abstrak yang dimasukkan pengarang ke dalam cerita yang ditulisnya, sekaligus sebagai pusat yang terdapat dalam suatu cerita.
2. Tokoh
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa yang ada dalam cerita (Lustantini Septiningsih, 1998: 16).
Setiap cerita memiliki paling sedikit satu tokoh dan biasanya ada lebih dari satu. Tokoh-tokohnya mungkin binatang, orang, obyek, atau makhluk khayal. Tokoh dapat memiliki dua sifat, yaitu protogonis (karakter yang melambangkan kebaikan, menunjukkan sikap positif dan merupakan contoh yang layak ditiru) dan antagonis (karakterister yang berlawanan dengan tokoh protagonis, merupakan contoh karakter yang harus dijauhi sikap dan perbuatannya).
Penokohan yang dipilih dipengaruhi oleh sifat, ciri pendidikan, hasrat, pikiran dan perasaan yang akan diangkat oleh pengarang untuk menghidupkan dongeng.
3. Alur
Alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa secara logis dan kronologis saling berkaitan yang dialami oleh pelaku.
Alur dibagi menjadi dua macam, yaitu alur lurus dan alur sorot balik. Alur lurus adalah peristiwa yang disusun mulai dari awal, tengah, yang diwujudkan dengan pengenalan, mulai bergerak, menuju puncak dan penyelesaian. Alur sorot balik adalah urutan peristiwa yang dimulai dari tengah, awal, akhir atau sebaliknya. Alur dapat melibatkan ketegangan, pembayangan dan peristiwa masa lalu. Hal ini dimaksudkan untuk membangun cerita agar peristiwa ditampilkan tidak membosankan.
Selanjutnya alur ditutup dengan ending, yaitu happy ending (bahagia) atau sad ending (sedih). Untuk ending terserah kepada pendongeng apakah akan membuatnya menjadi akhir yang bahagia atau akhir yang menyedihkan.
4. Latar / Setting
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacauan yang berkaitan dengan ruang, waktu dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra (Lustantini Septiningsih, 1998: 44). Dengan demikian sebuah latar cerita akan memberi warna cerita yang ditampilkan, disamping juga memberikan informasi situasi dan proyeksi keadaan batin para tokoh.
Istilah latar biasanya diartikan tempat dan waktu terjadinya cerita. Hal tersebut sebagian benar, tetapi latar sering berarti lebih dari itu. Di samping tempat dan periode waktu yang sebenarnya dari suatu cerita, latar meliputi juga cara tokoh-tokoh cerita hidup dan aspek kultural lingkungan. Berikut penjelasan tentang latar atau setting:
Ada dua macam latar yang kerap digunakan, yaitu latar sosial (mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikapnya, adat kebisaaan, cara hidup, maupun bahasa yang melatari peristiwa) dan latar fisik atau material (mencakup tempat, seperti bangunan atau daerah). Latar adalah cerita akan memberi warna cerita yang ditampilkan, disamping juga memberikan informasi situasi dan proyeksi keadaan batin para tokoh. Satu unsur di atas dapat lebih menonjol diantara unsur lainnya, karena bisa jadi sebuah dongeng dikatakan menarik karena alur dan penokohan saja yang menonjol. Tentu lebih baik apabila keempat unsurnya dapat dikerjakan oleh pengarang dongeng dengan maksimal. Contoh dari dongeng yang memiliki kekuatan dari seluruh unsur penting dongeng adalah Timun Mas. Alur cerita yang melibatkan ketegangan dan peristiwa masa lalu telah berhasil memancing imajinasi audience untuk mengikuti cerita. Penokohan dikerjakan dengan mengikutsertakan karakter protagonis dan antagonis yang menghasilkan kekontrasan. Timun Mas dan orangtunya melambangkan karakter protagonis sedangkan raksasa melambangkan karakter yang antagonis dengan kejahatan dan ketamakannya. Latar cerita benar-benar mengajak imajinasi audience pada suasana kehidupan pedesaan yang penuh fantasi. Tema dari dongeng ini jelas, yaitu menggambarkan tentang keberanian bertindak diatas kebenaran untuk mengalahkan ketamakan dan kejahatan. Keempat unsur ini sangat sesuai dengan target audiencenya yaitu anak-anak.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Kegiatan mendongeng merupakan suatu kegiatan yang membangun. Tetai di zaman modern ini banyak orang-orang yang kurang ahli dalam menceritakan dongeng padahal dongeng merupakan salah satu karya sastra yang disukai siswa sehingga bisa menumbuhkan minat siswa dalam sastra. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa pelaku pelestarian sastra indonesia harus belajar mendongeng sesuai dengan tujujan makalah ini dibuat.

Saran
Saran dari makalah ini adalah sebagai berikut:
a)      Untuk mengapresiasi sastra dapat dilakukan dengan mendongeng.
b)      Mendongeng juga bisa digunakan untuk mempererat hubungan dengan peserta didik.
c)      Mempelajari dongeng sangat bagus untuk perkembangan karakter diri.




DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Imran T. 1994. makalah ” Resepsi Sastra Teori dan Penerapannya”
dalam buku Teori Penelitian sastra . Yogyakarta: IKIP Muhammmaditah
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.
Danandjaja, James. 1986. Folkor Indonesia. Jakarta: Pustaka Grafitipress.
Ekadjati, Edi S. 2001. Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad.
Ekajati, Edi S. 1983. Naskah Sunda Lama Kelompok Babad. Bandung:      Depdikbud.
Hidayat, Suryalaga. 1996. Racikan Budaya Sunda. Jabar : Depdikbud Prop.
Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.Yogyakarta.

Selamat Datang di www.anaziz.com semoga konten yang anda cari ada disini. Website ini masih dalam pengembangan dan akan berorientasi pada bidang pendidikan terutama perangkat pembelajaran. Semoga bisa menjadi website yang berguna terutama untuk pengembangan pendidikan di Indonesia.

0 komentar:

Post a comment

Bergabung dengan Tim

Kontak
Aziz Permana
082137148320
Gempolsari 18/04, Wates, Simo, Boyolali
Powered by Blogger.